0

Atasi Krisis Sampah TPA Cipayung, Supian Suri Paparkan Strategi Pengolahan Sampah Depok di Forum UCLG ASPAC

DepokInsider, Wali Kota Depok, Supian Suri, memaparkan berbagai langkah strategis Pemerintah Kota (Pemkot) Depok dalam mengatasi persoalan sampah pada forum City-to-City Learning and Innovation Lab: Waste Management Practices yang digelar UCLG ASPAC di The Margo Hotel, Selasa (28/7/2026).

Acara internasional tersebut dihadiri oleh Sekretaris Jenderal UCLG ASPAC Bernadia Irawati Tjandrawati, mantan Menteri Sosial RI Tri Rismaharini, serta sejumlah kepala daerah dari berbagai wilayah di Indonesia.

Dalam forum tersebut, Supian Suri mengungkapkan bahwa Kota Depok menghadapi tantangan pengelolaan sampah yang cukup berat. Volume sampah harian Depok mencapai 1.200 hingga 1.500 ton per hari, yang mengakibatkan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Cipayung mengalami kelebihan kapasitas (overcapacity).

Guna mengatasi permasalahan di hilir, pemerintah pusat menunjuk Kota Depok masuk dalam proyek pengolahan sampah menjadi energi listrik (PSEL) gelombang kedua bersama wilayah aglomerasi Bogor.

“Depok masuk batch kedua bergabung dengan Bogor. Kita punya kewajiban mengirimkan 750 ton sampah per hari. InsyaAllah pengolahan sampah jadi energi listrik ini berjalan ditargetkan di awal 2028,” ujar Supian Suri.

Selain proyek PSEL, Pemkot Depok tengah memproses kerja sama dengan pihak swasta untuk mengolah sampah menjadi Refuse Derived Fuel (RDF) atau bahan bakar turunan dari sampah.

“Kami targetkan pengolahan RDF mencapai 500 ton per hari. Saat ini masih dalam proses persetujuan dengan DPRD Kota Depok,” tambahnya.

Inovasi Minyak Jelantah dan Pengolahan dari Hulu

Tak hanya sampah padat, Pemkot Depok juga menggandeng Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (TP-PKK) dan PT Greenia untuk mengelola limbah cair rumah tangga melalui program Sera Mijel (Sembako Rakyat Minyak Jelantah).

Lewat program inovatif ini, masyarakat dapat menukarkan 3 liter minyak jelantah dengan 1 liter minyak goreng bersih di kelurahan setempat. Minyak bekas pakai yang terkumpul nantinya diolah oleh PT Greenia menjadi bahan bakar penerbangan (avtur) sehingga tidak mencemari lingkungan.

Supian Suri menekankan bahwa penanganan sampah tidak bisa hanya mengandalkan tempat pengolahan akhir, tetapi harus diselesaikan sejak dari sumbernya di tingkat rumah tangga.

“Di 2027 kami dorong penyelesaian masalah sampah di hulu melalui lingkup RW, sehingga pengelolaan lingkungan dapat mandiri dan tidak lagi sepenuhnya bergantung pada TPA,” pungkasnya.

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Pasang iklan

Populer